Upacara Magedong-Gedongan (Upacara Bayi dalam Kandungan)


Upacara di Bali yang masih termasuk upacara tradisional, merupakan suatu mata rantai yang tidak dapat dipisahkan dan Tattwa/filsafat; yaitu merupakan tujuan dan pada ajaran Agama Hindu, serta Susila; yaitu aturan-aturan yang patut dilaksanakan untuk mencapai tujuan.

Ketiga unsur di atas (Tattwa, Susila, Upacara) adalah merupakan unsur-unsur universal Agama Hindu yang antara unsur yang satu dengan unsur yang lain, saling dipahami dan ditaati secara terpadu sebagai acuan perilaku masyarakat Bali yang beragama Hindu.

Upacara Bayi dalam Kandungan atau juga bisa disebut Upacara Megedong-Gedongan atau Upacara Garbadana adalah Upacara Kehamilan. Menurut Kanda Pat Rare mengatakan dalam proses kehamilan karena “Kama Jaya” (Sperma dari Ayah) bertemu dengan “Kama Ratih” (Ovum dari Ibu) terjadilah pembuahan. Semakin besar terwujudlah Jabang Bayi. Upacara Megedong-gedongan adalah Upacara yang ditujukan kepada Bayi yang masih berada di dalam Kandungan dan merupakan Upacara pertama dilaksanakan pada saat Bayi berumur 5 bulan Bali (±6 Bulan kalender), karena wujud Bayi sudah dianggap sempurna. Pelaksanaan Upacara Magedong-gedongan berfungsi sebagai penyucian terhadap Bayi. Disisi lain juga berarti agar kedudukan Bayi dalam Kandungan agar baik kuat tidak abortus. Secara bathiniah agar Sang Bayi kuat mulai setelah lahir menjadi orang yang berbudi luhur, berguna bagi Keluarga dan Masyarakat. Demikian juga dimohonkan keselamatan atas diri si Ibu agar sehat, selamat waktu melahirkan.


Upacara magedong-gedongan ini dilaksanakan selambat-lambatnya pada saat kan
dungan berumur 7 bulan, upacara ini dilaksanakan bertujuan untuk menyucikan janin dalam kandungan, agar nantinya terlahir anak yang Suputra. Upacara Pagedong-gedongan ini dilaksanakan setiap terjadinya suatu kehamilan pada si Ibu


Selasa,26 Maret 2013 di hari yang indah ini merupakan hari pertama kalinya Dedek (Kehamilan Luh Widya) di Upacarai dengan banten magedong-gedongan. Bertepatan dengan Bulan penuh atau sering disebut bulan Purnama Upacara magedong-gedongan ini berjalan dengan penuh kebahagiaan serta canda tawa.

Betapa indahnya kalau Upacara magedong-gedongan ini bertepatan pula dengan Hari Penampahan Galungan atau anggara wage dunggulan yang dimana hari ini menyelenggarakan bhuta yadnya, ditujukan kepada sang bhuta galungan. Melakukan abiyakala dan cecaron di halaman rumah sebagai pelabhan.

Kata Magedong-gedongan berasal dari kata “gedong” yang berarti gua garba. Gua artinya pintu yang dalam atau pintu yang ada di dalam, garba artinya perut. Jadi, gua garba artinya pintu yang dalam atau pintu yang ada di dalam, garba artinya perut. Jadi, gua garba artinya pintu yang dalam, berada pada perut si ibu. Dalam hal ini yang dimaksud kehidupan pertama itu adalah si Bayi. Untuk keselamatan bayi dalam perut ibu inilah dilakukan upacara magedong-gedongan. 
 
Seminggu sebelum Upacara magedong-gedongan hari ini diselenggarakan, Ibu dari Luh Widya sudah mempersiapkan berbagai alat-alat banten yang diperlukan sekaligus melakukan pekoleman (pemberitahuan) terhadap Ratu Aji di Grya Lobong atau Grya Lebah yang ada di Banjar Cau, Desa Tua Marga, Tabanan-Bali.

Setelah mendapat petunjuk serta persetujuan dari Ratu Aji Grya Lobong yang menyanggupi Upacara magedong-gedongan akan dilaksanakan pada Selasa,26 Maret 2013 di Pukul 14.00 Wita yang dipuput langsung oleh beliau di Merajan Luh Widya.

Begitu unik dan anehnya sarana-prasarana yang digunakan untuk melengkapi banten magedong-gedongan ini, adapun diantaranya: Daun Kumbang, Ikan Lele, Ikan Nyalian, Belut, Ikan Karpel, Tumbak Tiing dan paso dari tanah liat.

Tepat waktu tepat saji,.. yup begitu yang terpantas untuk banten yang digunakan pada saat magedong-gedongan ini, selesai mebat di pagi harinya, siang sekitar pukul 13.15 waktu Bali Upacara magedong-gedongan dimulai dengan menyiapkan banten di Merajan oleh Ibu Luh Widya yang dimana penjemputan Ida Ratu Aji dilakukan oleh Bapak Luh Widya.

Wayanyasa (Ayah dari calon bayi) Sempet keliling mencari ikan karpel untuk sarana pelengkap dari upacara tersebut, namun ujung-ujungnya tidak memperolehnya,,hemm yg penting udah berusaha aja sie en tentunya sok sibuk gitu..he he he he


 
Mencari di tempat penjual ikan pemancing di Ayu Nulus yang ada di desa semingan marga, yee..adanya only ikan nila hii..mencari informasi ke beberapa tukang-tukang ikan dan tukang pancing tidak nemu jugah..kali kali kali akhirnya tidak memakai ikan caper, hanya menggunakan ikan lele, nyalian, dan lindung.

Perjanjian tinggal perjanjian, awalnya prosesi akan dilakukan mulai sekitar pukul 14 waktu bali agar sekitar pukul 15:15 Wita Ayah dari calon baby bisa melakukan swadharmanya (nguli) ke bukit unggasan namun kenyataan berkata berbeda, upacara dimulai sekitar pukul 15:06 wita karena ida ratu aji baru sampai di grya nya datang dari denpasar muput.

Bapak Luh Widya memberi konfirmasi untuk melakukan persiapan dirumah agar acara bisa langsung bisa di gelar ketika ratu aji sampai dirumah, bangun dari peraduan berdua langsung mengenakan pakaian adat bali madia berdua serta menuju ke merajan.

Sembari menunggu pucuk dicinta ulam pun tiba, akhirnya ratu aji datang berpasangan dengan ratu niang (istri beliau) langsung menuju merajan dan senyum sapaan mengawali pertemuan kala itu, tanpa ba bi bu ratu niang langsung menata dan mengatur banten yang digunakan dan menyuruh Ibu mama luh Widya untuk mempersiapan segala sesuatunya yang kurang contohnya kwangen.

Luh Widya yangkil Paso dan membawa daun kumbang yang berisi Ikan Nyalian, Ikan Lele, Belut (Lindung) diikuti Wayanyasa membawa tumbak dari luar merajan menuju Natar merajan sembari masuk serta memutuskan benang tridatu terikat oleh dua carang pohon dapdap yang dipegang oleh Pekak dan Nenek calon sang bayi merupakan awal Upacara Magedong-gedongan ini ditandai sudah dimulai.


Putus benang tridatu menandakan bahwa Wayanyasa harus melakukan penusukan dan perobekan terhadap daun kumbang yang dibawa oleh Luh Widya didalamnya terdapat beberapa ikan seperti yang disebutkan diatas. Begitu tumbak menembus dan merobek daun kumbang, langsung lele, ikan nyalian dan belut terlepas bebas di natar merajan.

Selanjutnya dilakukan persiapan persembahyangan yang diawali dengan meatur piuning oleh ratu aji kahadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta leluhur di merajan. Banten yang digunakan dalam Upacara Magedong-gedongan untuk calon sang bayi keluarga kecil Wayanyasa dan Luh Widya adalah Banten Abyakala, Pagedongan, Sesayut Pengambean, Canang, dan Daksina.

Adapun beberapa variasi Upakara (sesajen) menurut KANDA PAT RARE sbb:

 Variasi I
- Abyakala
- Pagedongan
- Sesayut Pengambean
- Canang
- Daksina
 

Variasi II
- Dapetan Tumpeng Pitu
- Pejati Munggah ring Dewa Hyang Guru
- Pejati Pemangku
- Soroan
- Tebasan Prayascita
- Sodaan sesuai dengan Kondisi Merajan 

Variasi III, untuk pembersihan sederhana
- Abyakala.
- Prayascita.

Makna dan upakara, jenis sesajen di atas Sesajen Abyakala dan Prayascita untuk menghilangkan pengaruh buruk dari Sang Buta Kala serta bencana yang akan menimpa sang Bayi maupun Sang Ibu. Daksina yang diperuntukkan Pemangku merupakan ungkapan terimakasih telah ikut ngayabang Banten. Daksina juga diisi tetapakan dan Janur yang berbentuk menyilang ( + ) sebagai simbul swastika yang artinya semoga baik dan selamat. Yang arah ke atas memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sedangkan arah ke bawah mohon keselamatan pada Buana Agung.

Salah satu variasi metanding Abyakala/Biakala adalah sebagai berikut:
- Alas kulit Sayut di bawah memakai sidi/ayakan di atas kulit peras pandan.
- Nasi dibungkus daun,
- Penek merah ditusukkan di atasnya bawang Tabia dialasi kau.
- Telur Ayam
- Base Tulak (Base 5 lembar) digulung bolak-balik, satu lembar dililit berfungsi sebagai kamben/Kain
- Kala Sepet = Tiying/bambu disepak kurang lebih 6cm didalamnya diisi Sambuk.
- Buu Tangga Menek, Tangga Tuun, Jan Lilit linting, Lilit Lengkung dibuat dari Janur.
- Padma (berupa Sampiyan)
- Sidi, tempat sebagai alas metanding. Sidi dibuat berlubang-lubang. Mengandung makna agar Kala dapat disaring atau hal yang kotor dan hal yang dianggap bersih dapat dipisahkan. Secara simbolik segala yang cemer/leteh agar keluar dari orang tua maupun si Jabang Bayi.
- Kekeb (tutup kukusan) diatas diisi takep api dari sambuk yang disilang seperti simbol swastika. Simbol Dewa Brahma yang mengandung makna, semoga yang reged/kotor/leteh, tidak baik secara niskala dapat dimusnahkan oleh api sebagai simbol Brahma.
- Pebersihan.
- Satu Ceper berisi isuh-isuh, diisi Bawang Merah, Uang Kepeng (pis bolong).
- Coblong berisi air.
- Penyeneng.

Semua tetandingan Byakala di atas mengandung makna untuk pebersihan dan mohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Kala baik yang datang di dalam diri (Buana Alit) maupun pengaruh luar di Buana Agung dapat ditolak  atau ditangkal.


Melakukan persembahyangan bersama dihadapan Merajan kehadirat leluhur memohon kesehatan serta keselamatan bagi calon bayi dan sang Ibu. Hening serta khusuknya panca sembah bisa dilakukan bersama walau sengatan sinar sang surya menerpa kulit.

Berselang beberapa menit mengikuti prosesi persembahyangan bersama serta melakukan rentetan/runtutan 
dari Upacara magedong-gedongan itu akhirnya mantra Om dewa suksma paramacintia ya namah swaha, 
Om Shanthi, Shanthi, Shanthi Om menandakan persembahyangan sudah selesai.

Pemercikan tirta dan berikut diikati rumput ilalang di kepala Ayah dan Ibu sang calon bayi merupakan prosesi
terakhir dari Upacara bayi dalam kandungan sudah pada pengujung upacara.

Dengan keramahan senyum, serta ucapan terima kasih dihaturkan kepada Ratu Aji dan Ratu Biang, 
semoga amal bakti serta ketulusan dalam meyadnya selalu menjadi kesetiaan yang tidak mengharap 
balas budi yang tak terhingga.

Harapan kedepan sesuai dengan dicirikan dari simbol-simbol upakara yang digunakan, antara lain banten Byakala, banten Prayascita, banten ayaban saka sidan, banten Sesayut Pamehayu Tuwuh, yang semua itu bermakna untuk memperoleh keselamatan dan kesejahteraan sehingga anak keluarga kecil dari kami terlahir menjadi anak yang baik (suputra) sehat jasmani dan rohani.

Sumber Penunjang: http://www.parisada.org/