Arti Kode-Kode Pada Lensa Canon

foto en design : Wayan yasa
Membeli lensa baik itu baru maupun second haruslah tahu kode pada lensa yang sahabat akan beli karena sangat berkaitan dengan keperluan fotografi untuk mendapatkan foto sesuai dambaan hati. Membeli lensa selain melihat dari fisik lensa dan secara fungsional, harus memahami kode-kode yang di cetak pada body lensa. Di kesempatan kali ini saya mencoba menjelaskan sedikit tentang kode-kode lensa pada merek canon, karena saya sebagai user canon yang tak jemu-jemu akan lensa-lensanya,,hee hee...

Baiklah mari kita coba mulai dari beberapa sample kode-kode lensa dari canon tersebut.
Ambil contoh lensa seperti ini:
- CANON LENS EF 28-80mm 1:3.5-5.6. Ø58mm.
- CANON LENS EF 200mm 1:2.8L II USM. Ø72mm.
Artinya apa yah? Coba yuk dibedah satu2......

- Canon Lens
Sudah jelas artinya, lensa produksi canon

- EF (Electro Focus)
Dudukan lensa (sambungan ke body kamera). Dudukan lensa Canon ada banyak macam, dari kamera jadul sampai kamera DSLR modern sekarang ini.
Urutannya:
- R mount (1959 - 1964)
- FL mount (1964 - 1971)
- FD mount (1971 - 1976)
- New FD mount (1976 - 1987)
- EF mount (1987 - Present)

- 28-80mm; 200mm
Angka ini adalah focal length. Kira2 untuk mudahnya (gak ngerti teknisnya euy...), semakin kecil angka ini, berarti semakin besar sudut yang bisa ditangkap oleh lensa tsb (wide). Semakin besar angka ini, berarti semakin kecil area yang bisa ditangkap oleh lensa (tapi semakin besar objeknya, atau disebut juga tele).

Angka 28-80mm artinya lensa tersebut adalah lensa zoom, dengan arti: focal length bisa diatur dari posisi paling dekat (wide) adalah 28mm sampai posisi paling jauh (tele) adalah 80mm.

Angka 200mm artinya lensa tersebut adalah lensa fixed, artinya focal length lensa ini tidak bisa diubah2, sehingga sudut yang bisa ditangkap oleh lensa tersebut juga tetap/tidak berubah.

- 1:3.5-5.6; 1:2.8

Ini adalah angka yang menunjukkan apperture yang ada di lensa ini. 1:3.5-5.6 artinya lensa ini bisa menggunakan apperture maksimal 3.5 pada focal length 28mm, dan 5.6 pada focal length 80mm.

Demikian juga dengan contoh kedua, karena lensanya fixed, maka hanya ada satu nilai apperture maksimal, yaitu 2.8.

- L
L artinya 'Luxury', diterjemahkan secara harfiah 'mewah'. Lensa Canon dengan atribut L merupakan lensa produksi Canon yang paling berkualitas, dan mahal tentunya. Lensa L dicirikan dengan garis/cincin merah di ujung tabungnya. Lensa L berjenis telephoto (focal length besar) hampir semuanya berwarna putih, bukan hitam.

- II (angka romawi)
Menandakan lensa 'tahap 2' atau penyempurnaan dari lensa dengan atribut yang sama. Bisa jadi akan ada III, IV, dst.

- USM
Singkatan dari Ultra Sonic Motor. Yang dimaksud disini adalah motor penggerak Auto Focus dari lensa tersebut. Lensa tanpa USM menggunakan motor elektromagnetik dan roda bergerigi kecil untuk menggerakkan auto focusnya. Hasilnya adalah kerja motor yang (relatif) bising. Dan juga agar bisa menggunakan manual focus, kita harus memindahkan tombol dari AF ke MF. Pada motor non-USM, jangan mencari focus secara manual ketika tombol masih di set di AF, karena kita akan membebani motor dan roda bergeriginya, sehingga bisa rusak.

- Ø58mm
Diameter cincin filter. Dengan kata lain, kalau kita ingin membeli filter, hood, cap atau aksesoris lainnya yang dipasang di depan lensa, kita harus mencocokkannya dengan diameter cincin filter tersebut.

- IS
Belum disebutkan di atas. IS adalah singkatan dari Image Stabilization. IS adalah mekanisme optikal yang rumit, yang bertujuan untuk meminimalisasi efek gerakan kamera, sehingga hasil gambarnya tidak terlalu parah blurnya. IS terdiri dari komponen2 seperti sensor gerakan, chip microcomputer, dan motor kecil untuk menggerakkan elemen lensa khusus. Tentu saja harga teknologi ini juga tidak murah, dibandingkan dengan lensa non-IS

IS bekerja dengan mendeteksi gerakan kamera, dan 'meng-counter'nya. Misalnya IS mendeteksi gerakan kamera ke kiri 10 derajat, maka IS akan berusaha mengkompensasinya ke kanan, sehingga gerakan kamera ke kiri jadi tinggal 3 derajat, misalnya.

IS sangat berguna ketika kita mengambil gambar dalam keadaan dimana shutter speed cepat tidak dapat dicapai (misalnya dalam kondisi cahaya rendah, atau lensa dengan bukaan rana yang kecil). IS dapat menurunkan kecepatan shutter speed 'aman' sebesar 1 atau 2 stop dengan mudah. IS paling berguna khususnya pada lensa2 telephoto, dimana gerakan sedikit saja bisa membuat gambar sangat blur.

Yang harus diperhatikan adalah: IS mengkompensasi gerakan kamera, bukan gerakan objek (yang dipotret). Kalau objek yang dipotret adalah objek bergerak, maka IS tidak membantu membuat objek tersebut lebih tajam (kecuali dalam kasus panning tentunya).


Itu sedikit yang saya mengerti dari beberapa sumber yang saya baca, mungkin ada sahabat-sahabat yang bisa menambahkan, silahkan berkomen ria di halaman komentar. Makasi ya